Butiran air perlahan terjun bebes melewati pipi yang tak mulus lagi, kedua mata yang tengah memberontak. Antara rasa kantuk, marah, harapan, dan rasa-rasa lainnya mengaduk-aduk pikirannya kemudian sumpah serapah begitu saja.
Gila, curang, nama-nama binatang silih berganti disebutkan satu-satu. Lalu mau apa lagi, pikir Si Bejo untuk menutup kekesalan, perasaan dicurangi. Mereka telah bermain curang, mesti ada apa-apa dengan dadu ini, ada aji-ajian.
Si Bejo langsung menyelidiki secara bergilir setiap mulut, siapa tahu mendapati ada yang berkomat-kamit. Ini dia orangnya, Si Bejo secara bulat-bulat menetapkan tersangka, dikedipkan tepat ke sebelanya sambil terus mengulang gerakaan wajah sebagai petunjuk pada tersangka.
Namun, Si Bejo merasa kode hanya sia-sia semata sampai tak meyadari kini gilarannya. Iya, Si Bejo mendapat gilaran untuk mengocok lalu melemparkan dadu. Badan terasa Si Bejo berasa tampah dingin apa lagi menyadari di kantong tinggal Rp 5.000,-.
Perlahan-lahan ia putar setengah batok kelapa yang akan selalu diikuti tiga dadu. Ia angkat tinggi lalu membuat gerakan cepat kilat dengan mengembalikkan batok tersebut. Kini, ketiga dadu telah tertutup botok kelapa.
Jangan-jangan, Si Bejo meletakan harapan pada kedua dadu, Semoga saja, untuk kali ini saja tolong dadu dengarkan wahai dadu, jangan lagi jadi pembangkang wahai dadu. Unkapan tersebut tanpa disadari ternyata tengah dipantau seseorang.
Seorang yang tak lain adalah orang yang diajak untuk bersekutu. Orang yang juga mencari siapa yang bernasip sama dengan Si Bejo. Orang yang menyelidiki siapa yang telah memberikan ajian pada dadu ini. Lebih tepatnya bernasip sama dengan Si Bejo.
Ah, ajian ini dari Si Bejo.............

Tidak ada komentar:
Posting Komentar