Hitam-putih, benar-salah. sebuah hukum yang terus menjadi tolak ukur seseorang. Tak habis-habisnya sesorang diwarnai oleh warna tersebut, warna-warna itulah yang telah menutup warna-warni kehidupan.
Selaksa kita duduk di sebuah pengadilan, lalu menyaksikan jaksa penuntut, dan pembela saling beradu argumen. Semua argumen terpusat untuk sesorang yang bernama terdakwa, begitu pula sang hakim.
dan sepertinya hal tersebut sengaja dibangun, dari pendidikan yang kita enyam bagaimana pendidikan yang terbangun hanya bagaimana kita bebicara tentang benar dan salah, lalu kita mengenyam segala macam perdebatan tentang kebenaran, kebanaran adalah..........................
semunya membawaku kepada banyangan bahwa pendidikan yang telah dianyam adalah hanya untuk menentukan sebuah keputusan antar hitam dan putih atau salah dan benar. Dari mengerjakan tugas, ulangan dan segala macam. Dan jika semua yang nilai di bawah maka siap-siap menajadi terdakwa dari sebuah pengadilan.
begitupula para pengadili meraka belajar warna hanya untuk menentukan hitam dan putihnya terdakwa seseorang terdakwa. Dan seandainya terdakwa adalah aku, kamu dan kalian lalu apa yang kalian lakukan?
Dengan mengagap setiap perkataan dari terdakwa adalah hanya sebagai alibi belakang.
Tak ubahnya bahwa setiap kata-kata yang terlontar dari terdakwa hanya sampah yang tak lagi ada nilainya sama sekali. lantas untuk pula kita bersua. maka tak ada pilihan bagi terdakwa selain menggantungkan nasib untuk sebuah warna hitam dan putih.
Terkadang dari pada bersua lebih baik diam, ada yang mengatakan bahwa diam juga adalah emas benarkah demikian? iya, dengan diam kita bisa mendengar beberapa orang yang sedang berceloteh, atau juga dengan diam membiarkan diri kita lenyap dari peredaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar