lalu hanya sebuah gerundelan, atau umpatan, dan bisa juga keluhan yang tak tahu secara pasti apa yang menjadi penyebabnya. semua itu terjadi, saat nama hari itu datang, dia begitu saja datang tanpa diundang.
Rasanya seperti baru kemarin aku telah melaluinya, dan kini semuanya nampak dengan jelas. Dan saat itu pula, aku berkehendak melarikan diri, atau mengumpet, kalau perlu membunuhnya.
Pernah suatu ketika aku mencoba mengelak darinya, bahkan bisa dikatakan membunuhnya, dengan cara mencoret nama, namun apa yang terjadi? Namun, semua terasa sia-sia, dan apa yang terjadi? Ia tertawa, yang tawanya semakin nyaring terdengar, bahkan semakin menjadi-jadi.
Tak hanya tawaan yang terdengar, ejekkan hinggap lalu memakiku, ia terus menderu bak mesin, atau gerumbulan lalat yang terus mengiang dalam benak. Sekuat apapun aku berlari, ia terus mengejarku.
perstan dengan nama itu, namun kata-kata tersebut bukannya membuat kau semakin tenang, aku hanya berusah menghibur diri saja, terkadang juga menghibur dirinya dengan makian yang lain.
Lalu menulisnya dengan sebuah huruf-huruf besar, dengan tinta berwarna merah. berharap bahwa tulisan tersebut dapat memberi penjelasan padanya, bahwa iya, aku membenci waktu yang datang secara tiba-tiba, setelah aku baru saja merasakan kenikmatan secangkir kopi, tanpa harus menatap dan mendengar orang berceloteh dengan menggunakan nalarnya, sebuah nalarnya yang telah berubah menjadi Tuhan.
Dan waktu itu juga, di mana aku harus terbangun dari mimpiku, hari yang mana aku harus menjalani kehidupan nyata, mengulang apa yang pernah terjadi, lalu membiarkan semuanya berlalu dan pada akhirnya terlupakan dan setelah datang aku mengutuknya kembali.
Lalu kenapa juga aku harus mengutuknya? Bukankah ini merupakan hari seperti hari yang pernah terlewatinya. Mungkin kedatangan hari itu, berupa hari Senen sebuah awal dari perjalanan akan sebuah rutinitas, atau juga karena aku merasa tersadarkan bahwa waktu ngopi pada hari santai telah usai. Tapi yang ku tahu bahwa aku mengutuknya.